Tangerang – Dini Anggraeni, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, menjelaskan Indonesia saat ini mulai memasuki tahap gelombang ketiga Covid19 dan didominasi varian Omicron. Hal ini tercermin dari pesatnya dan banyaknya kasus Covid-19 yang terjadi dalam dua pekan terakhir. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada.
Oleh sebab itu, pihaknya sudah siap mengantisipasi lonjakan kasus agar tidak seperti yang terjadi bulan Juli 2021 lalu, dilansir beritasatu.com.
Kepada media, mantan Direktur RSUD Kota Tangerang tersebut menyatakan, meski peningkatan angka kasusnya cepat, dia menyatakan, gejala ditimbulkan bila terpapar Covid-19 ini ringan dan tidak perlu penanganan lebih di rumah sakit jika tertular.
“Kalau berdasarkan Kemenkes kan kasus Covid-19 yang terjadi di gelombang 3 dan kasus Omicron yang mendominasi akan terjadi puncaknya 2-3 minggu ke depan, namun demikian karakter gejalanya ringan khususnya bagi yang sudah menjalani vaksinasi. Ini tercermin satu dari tiga orang terinfeksi virus Covid-19, tidak mengalami gejala dan tanpa mereka sadari bisa menyebarkan virus kepada orang lain, atau telah menjadi pembawa. Namun demikian, berisiko rendah bukan berarti tidak berisiko,” ungkap Dini.
Dini menjelaskan, Covid-19 yang menyerang masyarakat tidak pernah memilih kepada siapa dirinya hinggap dan menularkan. Lantaran, tidak ada kelompok yang kebal, semua memiliki risiko yang sama untuk terinfeksi Covid-19. Pembedanya ialah derajat sakitnya, hal ini tergantung atas respons tubuh saat terserang Covid-19.
“Bisa jadi, Anda yang sehat, namun sedang atau sudah menjadi carrier yang bisa membahayakan orang sekitar, terutama mereka kelompok rentan dan berisiko tinggi saat terpapar Covid-19. Seperti lansia, pengidap komorbid hingga anak-anak yang berpotensi dampaknya hingga kematian,” lanjutnya.
Atas dasar itulah, Dini mengimbau supaya tetap aman dan sehat, kuncinya adalah selalu hati-hati dan waspada. Masyarakat Kota Tangerang untuk selalu membekali perlindungan diri dengan selalu memakai masker, jaga jarak, hindari kerumunan, dan kurangi mobilitas di luar rumah.
“Satu lagi, yang tak kalah penting, segera vaksinasi termasuk vaksin booster. Makin cepat divaksinasi, makin banyak masyarakat yang terproteksi. Lakukan vaksinasi booster untuk memperkuat tingkat kekebalan dan memperpanjang masa perlindungan,” terangnya lagi.
Dini menyayangkan banyak isu di masyarakat yang membuat sebagian masyarakat menolak vaksinasi. Lantaran sebagian orang tersebut menganggap pelaksanaan vaksinasi tidak efektif karena masih bisa terpapar Covid-19.
“Ini yang terus kita sosialisasikan (persepsi salah). Karena sejak awal pemerintah sudah bilang vaksin yang dilakukan tidak membuat orang tidak bisa terpapar Covid-19. Tetapi setidaknya dengan vaksinasi orang yang terpapar akan mengalami gejala yang ringan karena kekebalan tubuhnya sudah baik, karena bantuan vaksin apalagi bagi orang tua (lansia) dan orang-orang yang dalam kategori memiliki penyakit komorbid,” tandasnya.(*/cr2)











